Gambaran aksis Jantung

13 04 2010

Jantung mempunyai irama tersendiri dalam melakukan kontraksi oleh karena dipengaruhi oleh sistem konduksi jantung. Perekaman potensial aksi selama siklus jantung menggambarkan jumlah aljabar potensial aksi serabut miokardium yang direkam secara ekstrasel dengan alat yang bernama Elektrokardiogram (EKG) (1).

Elektrokardiografi (EKG) adalah suatu prosedur pencatatan aktivitas kelistrikan jantung melalui permukaan kulit. Prosedur pencatatan ini dimungkinkan dengan pemakaian elektroda yang ditempatkan secara spesifik di atas kulit (2,3). EKG adalah alat yang non-invasif dan sangat serba guna. Selain untuk mendeteksi penyakit jantung, juga dapat berguna untuk mendeteksi gangguan metabolik (4).

Jantung dapat diproyeksikan dalam berbagai bidang yaitu bidang frontal (aksis anteroposterior) dan horizontal (aksis longitudinal). Vektor QRS rata-rata pada aksis anteroposterior jantung dapat diperkirakan dari sadapan standar dengan memakai hexaxial reference system. Sudut vektor QRS aksis anteroposterior rata-rata menentukan aksis anteroposterior. Aksis QRS normal terletak antara +30o dan +75o; deviasi aksis ke kiri (superior) antara -30o dan -90o yang biasanya terjadi pada hipertrofi ventrikel kiri dan deviasi aksis ke kanan antara +110o dan ± 180o adalah abnormal yang biasanya terjadi pada hipertrofi ventrikel kanan. Dalam batas-batas normal, deviasi aksis ke kiri (superior) (-30o sampai +30o) menyatakan posisi horizontal jantung normal dalam istilah unipolar yang biasanya terjadi pada wanita hamil dan penderita ascites, dan deviasi aksis ke kanan (+75o sampai +110o) menyatakan posisi vertikal jantung normal (3,4,5,6).

Paru-paru, seperti juga dengan jantung berada di dalam rongga dada, bagian tubuh antara badan dan leher. Rongga dada adalah rongga tertutup, berhubungan dengan leher yaitu otot dan jaringan ikat serta terpisah dari abdomen dengan adanya diafragma dan otot skelet. Proses inspirasi terjadi akibat kontraksi aktif diafragma dan otot interkostal yang mengakibatkan pengembangan rongga dada. Akibat pengembangan rongga dada ini menimbulkan penekanan pada organ sekitar, salah satunya jantung. Penekanan ini mengakibatkan perubahan arah jantung (aksis), sedangkan ekspirasi terjadi akibat relaksasi otot interkostal dan diafragma. Akibatnya terjadi pengecilan rongga dada (7,8).

Perubahan besar terjadi pada sadapan EKG beberapa individu selama pernafasan dalam. Perubahan ini terjadi karena posisi jantung dalam rongga dada menjadi lebih vertikal pada inspirasi dalam dan horizontal pada ekspirasi kuat. Hal ini bisa diakibatkan karena pada saat inspirasi dalam, aksis anteroposterior jantung rata-rata adalah +85o dan posisi jantung adalah vertikal. Pada saat ekspirasi kuat,  posisi jantung sekarang lebih horizontal dan aksis anteroposterior jantung rata-rata adalah +65o (4).


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: