Indonesia Sail Bunaken 2009 goes to South Kalimantan (Borneo Island)

2 10 2009

Banjarmasin-Jiib.wordpress.com. Maybe around few days a head, There will be an occasion held in Floating Market at Martapura River Banjarmasin Indonesia. If I am not mistake, there will be held on October 4-6, 2009. In my mind why the visitor want to go to see the floating market in Banjarmasin? Yap floating market in Martapura river is the trademark for Banjarmasin city. Many people if they visiting here, they will also going to the floating market in Banjarmasin.

Floating Market is located at Martapura river which is included as one of the longest river in Borneo island. The most favourite place for the floating market is at Kuin Selatan near “makam” Sultan Suriansyah. If the visitor wanna see many boat that called “Jukung”, they have to come early in the morning at 5 a.m. If they come late after that, they won`t see many boats that sell anykind of vegetable, food, fruit and other. The most interesting is the boats that sell “Soto Banjar”, which is a kind of special food in Banjarmasin. Soto Banjar is watery food which is consist of packed rice surrounding with cutted eggs, vegetable, potatoes and etc. It was really delicious. Why it was interesting when you eat Soto Banjar? Because you eat Soto Banjar at the boat. And usually the boat was shaking by the river waves. So you`ve tobe carefull when you eat.

Banjarmasin famous with the kindness of the people, a thousands of river (just like at venice, Italy), and the various of foods and drinks. So many people would love to come here and walking around the city to watch the culture and people in here.

Indonesia sail Bunaken visitor that will come in Banjarmasin according to Banjarmasin Post newspaper around 40-50 boats which is consist of many countries, such as United States, England, Korea, Japan, etc. Some other will come to west java continuing their holiday in Indonesia.





Atelektasis paru (Review)

16 09 2009

Banjarmasin-Jiib.wordpress.com. Atelektasis paru menurut definisinya adalah kolapsnya jaringan alveolus paru akibat obstruksi parsial atau total airway. Etiologi terbanyak obstruksi airway adalah terbagi dua yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Instrinsik berupa peradangan intra luminar airway. Peradangan intraluminar airway menyebabkan penumpukan sekret yang berupa mukus. Selain itu juga terjadi edema di lumen airway sehingga mengakibatkan obstruksi pada airway. Etiologi ekstrinsik atelektasis pada airway adalah pneumothoraks, tumor dan paling sering adalah pembesaran kelenjar getah bening.

Gambaran radiologis atelektasis berupa penarikan diafragma mendekati lobus yang kolaps, penarikan mediastinum mendekati lobus paru yang kolaps dan ICS (intercostal space yang mengecil) akibat tarikan kolaps paru. Paru menjadi kolaps akibat tekanan negatif yang seharusnya ada pada alveolus berkurang akibat sumbatan sehingga saat inspirasi udara susah masuk ke alveolus sehingga parunya menjadi kolaps dan sesuai dengan hukum keseimbangan maka semakin negatif tekanan di dalam suatu ruangan maka dengan kuat ruangan yang bertekanan sangat negatif itu akan berusaha menyeimbangkan tekanannya dengan menarik udara maupun zat lain di sekitar sehingga pada gambaran radiologis terdapat gambaran radioopak pada lobus kolaps dan ada tarikan organ menuju lobus paru yang kolaps tersebut.

Pada anak-anak, atelektasis bisa terjadi. Terutama pada anak dengan infeksi primer Tuberkulosis. Pada infeksi primer tuberkulosis terdapat pembesaran kelenjar getah bening. Pembesaran kelenjar getah bening yang semakin banyak akhirnya menekan airway sehingga dapat dengan cepat timbul atelektasis pada anak-anak maupun bayi.

Tingkat keparahan atelektasi tergantung banyaknya airway yang terkena serta kualitas sumbatan pada airway  yang mengalami obstruksi. Terapi atelektasis harus  berdasarkan etiologi yang mendasari supaya mendapatkan hasil yang optimal untuk mengatasi atelektasis ini.





Syarat Foto Rontgen itu dianggap punya kualitas baik

15 09 2009

Banjarmasin-Jiib.wordpress.com.

foto thorax

  1. Simetris. Gimana cara a foto ini sudah simetris atau belum. Ya dengan membandingkan kanan kiri serta mengukur jantung dengan Cardiothoraxic indeks. Selain itu juga denga melihat Patoka dari midsternal ke kanan dan kiri dari klavikula. Diukur sama panjang atau tidak dengan toleransi 1 mm.
  2. Identitas. Ya tentulah identitas. Tak kenal maka tak saying jar urang tuha tuh. Ha….kalo tidak punya identitas ya dokternya akan bingung nih foro punya siapa dan ditujukan untuk siapa. Pasiennya pun akan bingung mencari hasil foto nya. Komponen identitas paling penting adalah nama, tanggal, kanan kiri, no foto.
  3. Insipirasi maksimal. Mengapa harus inspirasi maksimal. Kenapa ngga disuruh nafas seperti biasa. Disuruh inspirasi maksimal supayaudara bias masuk maksimal sampai alveoli sehingga paru dapat berkembang sempurna. Akibatnya corakan paru dan vaskuler tidak saling tumpang tindih dan terlihat dengan jelas, diafragma terlihat dengan sinusnya dan jantung bias dinilai dengan benar.
  4. Gambarnya tidak berbayang atau giyang. Kalo foto yang tercetak kabur, maka akan bias menimbulkan gambaran seperti infiltrate sehingga tentunya akan merugikan pasien yang seharusnya normal malahan dianggap sakit.
  5. Tidak ada artefak. Berupa kalung, rambut, anting, kancing, uang dan sebagainya karena bias menutupi lapangan pandang foto. Contoh rambut itu mengandung epitel-epitel sehingga bias menimbulkan salah persepsi sebab terlihat seperti infiltrate.
  6. Mencakup seluruh lapangan paru dari apeks paru hingga sinus dari diafragma.
  7. Kualitas foto harus pas yang terlihat dari tolak ukur kV sebagai tolak ukur kekuatan paparan dan mAs sebagai tolak ukur lamanya paparan yang diberikan.




Pulmonary Edema (Review)

15 09 2009

Banjarmasin-Jiib.wordpress.com. Edem paru…Paru kelelep jar urang tu…paru tinggalam jar urang banjar. Ada bujurnya jua. Sebab odem paru itu terutama akibat penumpukan cairan intravaskular ke ekstravaskular (ekstravasasi) menuju intersisial dan akhirnya menumpuk di alveolus. That based on the definition. Klasifikasi odem paru ini dibagi menjadi dua berdasarkan etiologi yaitu odem paru kardiogenik dan odem paru non kardiogenik.

Patofisiologi dari odem paru hamper sama dengan kejadian odem di sekitarnya. Kecuali khusus bagi odem otak yang memiliki pathogenesis tersendiri. Odem paru ini melibatkan 3 komponen utama yaitu vaskuler (kapiler paru), jaringan intersisial dan system limfatik.

Vaskuler dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu tekanan hidrostatik kapiler paru, tekanan osmotic intravaskuler dan permeabilitas membrane. Vaskuler ini dapat dijelaskan menurut Hukum Starling yaitu tekanan hidrostatik berbanding lurus dengan konstanta filtrasi dan berbanding terbalik dengan tekanan osmotic plasma. Semakin tinggi tekanan hidrostatik maka permeabilitas membrane akan semakin besar begitu pula semakin rendah tekanan osmotic maka permeabilitas membrane akan semakin besar. Bila kedua komponen tekanan hidrostatik dan tekanan osmotic bersatu saling mendukung maka bias akan timbul odem paru yang dalam tingkat berat sedangkan bila kedua tekanan hidrostatik dan osmotic saling bisa menyeimbangkan di dalam vascular maka balancenya vairan akan baik dan odem paru tidak bias terjadi.

Etiologi kardiogenik edem paru biasanya akibat kegagalan jantung kiri dalm berfungsi. Sedangkan etiologi non kardiogenik edem paru akibat dua sebab yaitu cedera langsung dan tidak langsung pada paru yang mengakibatkan permeabilitas membrannya meningkat. Penyebab langsung pada paru dapat berupa pneumonia, pneumoni aspirasi, inhalasi toksin, kontusio paru, radiasi, tenggelam dan emboli lemak. Sedangkan penyenan tidak langsung dari non kardiogenik adalah sepsis, shock, tranfusi multiple, pancreatitis akut dan syok anafilatik.

Gambaran radiologi kardiogenik odem paru berupa pembesaran jantung, aliran darah terbalik, kerley lines, basilar edem, air bronkogram (-) dan efusi pleura (+). Sedangkan gambaran radiologis non kardiogenik edem paru merupakan gambaran sebaliknya dari gambaran radiologis kardiogenik edem paru.

Stadium edem paru ada 3 yaitu stadium satu berupa dilatasi kapiler paru. Sedangkan stadium dua berupa ekstravasasi cairan ke intersisial sehingga menimbulkan infiltrasi cairan ke intersisial. Sedangkan stadium tiga berupa perpindahan massif cairan intersisial menuju alveolar paru sehingga terjadi edema alveolar.

Terapi pada edem paru tidak bisa diberikan diuretic, karena kerja diuretic hanya pada intravascular dan intersisial. Sedangkan odem paru sudah proses yang terjadi di alveolar. Sehingga pemberian diuretic pada oden paru sangat tidak diperlukan.